Sabtu, 25 Februari 2012

Diakah Teman Sejati Anda?


N
aluri berteman memang dimiliki oleh semua orang dan juga merupakan salah satu hak asasi manusia. Namun, sebuah pertemanan dan pergaulan sosial tidaklah dapat dipaksakan, seseorang berhak terhadap privasi dan pilihannya untuk bergaul dengan siapapun. Hal inilah yang menuntut sedikit kearifan kita untuk bersikap bijak. Dari pemikiran dan pemahaman tersebut, lahirlah sebuah prinsip hidup “Interaksi sosial antar individu mutlak dibutuhkan, tetapi setiap individu hendaknya dapat hidup secara mandiri tanpa berharap bantuan dari individu lainnya, setiap individu berkewajiban membantu individu atau kelompok lain sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, tetapi ia sendiri hendaknya mampu hidup mandiri dan tidak berharap untuk dibantu individu ataupun kelompok lainnya.” Kalimat prinsip hidup ini sejalan dengan kalimat yang disampaikan oleh  His Holiness Dalai Lama “Bila Anda menolong orang lain, dengan motivasi dan kepedulian yang tulus, maka akan membawa Anda lebih beruntung, banyak sahabat, banyak senyuman dan lebih sukses. Jikalau Anda melupakan hak orang lain serta melalaikan kesejahteraan mereka, maka akhirnya Anda akan kesepian.”
Ketulusan dalam hal membantu orang ataupun makhluk lain, amatlah menentukan kebahagiaan dan juga kemajuan batin seseorang yang membantu. Bila seseorang membantu dengan motivasi bantuan ini saya lakukan demi menolong dia yang membutuhan serta untuk menunjang kedewasaan batin saya sendiri (untuk mengurangi egoitas diri) tanpa mengharapkan balas jasa dalam bentuk apapun dari dia yang menerima pertolongan saya, maka keuntungan pertama yang diperoleh oleh ia, si pemberi dana adalah rasa plong kelegaan batin setelah melakukan pertolongan, tanpa disertai pertanyaan apakah ia yang menerima bantuan dari saya akan mengingat jasa kebajikan yang saya perbuat terhadapnya. Atau, akankah kebajikan yang telah saya perbuat ini mampu menghasilkan akibat positif saat saya membutuhkannya. Ini tentu saja mencegah timbulnya perasaan gelisah setelah berbuat hal yang baik. Mengingat tak semua penerima bantuan mau dan mampu untuk mengingat dan membalas budi baik orang lain.
Banyak aspek yang harus kita perhatikan dalam interaksi sosial kita dengan orang lain.  Mulai dari aspek kemurahan hati, pelaksanaan moralitas dan etika sosial, hingga kebijaksanaan dalam interaksi sosial kemasyarakatan. Satu hal yang perlu ditekankan dalam pembahasan ini adalahkendalikanlah ego dalam diri kita masing-masing, tidaklah mungkin kita dapat “menguasai serta memiliki” manusia lain seutuhnya. Janganlah bermimpi untuk memerintahkan orang lain sesuai dengan keinginan kita atau “semau gue” karena itu tak akan mungkin terjadi. Mereka menuruti kita hanya karena rasa takut, enggan membantah, karena mungkin kita memiliki “power” dilingkungan itu atau mungkin mereka tak enak hati untuk membantah kita karena kita telah menggaji mereka ataupun membantu kehidupan mereka. Ini tidaklah kekal! Mereka dapat berubah ketika faktor – faktor yang mereka segani hilang dari diri kita. Jadi satu hal yang harus dicamkan dalam diri kita masing-masing.
Don’t use power to manage social live. Use your wisdom to manage it.
Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hal pergaulan dan interaksi sosial, ada beberapa poin penting, yang memelihara hubungan sosial itu menjadi baik dan awet. Haruslah kita pahami, bahwa motivasi kita sebagai individu dalam menjalin hubungan dengan individu ataupun kelompok lainnya adalah untuk mendapatkan manfaat. Jadi jelaslah, bahwa tak ada individu yang sudi dan bersedia membina hubungan atau melaksanakan tugas dan tanggung jawab tertentu dari kita, jikalau tak ada manfaat dan keuntungan tertentu yang ia dapatkan dari membina hubungan ataupun melaksanakan tugas tersebut. Tentu perinsip ini berlaku pada tatanan masyarakat umum dan tidak berlaku bagi para ariya puggala (makhluk suci) yang telah membasmi nafsu keinginan dan kekotoran batin mereka. Biasakanlah untuk memandang dari sudut pandang kedua belah pihak, pihak kita dan individu atau kelompok lain yang membina hubungan maupun menjalankan peran, fungsi, dan tugas yang kita berikan, selain  bermanfaat bagi saya, apakah hubungan atau peran ini bermanfaat untuk ia? Apa manfaat yang ia peroleh? Apakah besar manfaat yang ia peroleh sama dengan manfaat yang saya dapatkan darinya? Apakah ia mungkin merasa dirugikan?
Faktor resiko saat berkenalan dan bergaul juga sangat diperhitungkan, secara umum setiap individu, tak mau mengambil resiko terlalu tinggi saat pertama kali berkenalan dan baru berteman. Biasanya ini diwujudkan dalam bentuk menutup hal-hal yang bersifat pribadi dari dirinya. Hal ini sangatlah dapat dimaklumi dan dapat dimengerti, mengingat banyaknya aksi kejahatan yang justru dilakukan oleh orang yang dikenal. Oleh karenanya, marilah kita hargai privasi orang lain dengan menghindari  pertanyaan yang bersifat pribadi. Itu menurut pendapat saya sebagai penulis.
            Perkembangan batin manusia yang dinamis juga menepis harapan kita untuk memperoleh teman serta sahabat yang “abadi.” Tak satu orangpun yang memiliki batin statis, perasaan, presepsi, pikiran dan kesadaran seseorang selalu berubah dari waktu ke waktu dan senantiasa dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat di mana ia bergaul.Memang benar, kita haruslah membangun hubungan dengan orang-orang yang berkualitas, agar kehidupan kitapun dapat memiliki kualitas yang baik, namun hal ini tak dapat dijadikan sebagai jaminan yang “mutlak.” Mereka bisa saja pergi meninggalkan kita suatu saat, atau bahkan di saat kita membutuhkan mereka, karena mungkin pandangan dan pola pikir yang sudah tidak sama, atau sebab lainnya. Bahkan ada yang sampai bermusuhan dan saling menghancurkan. Tentu, tak semua teman serta sahabat bersikap demikian. Tetapi dalam konteks bisnis dan kepegawaian, hal ini amatlah lumrah, karena sudah sedemikian seringnya terjadi. Tentu, sahabat yang mulia akan mengarahkan batinnya ke arah yang lebih baik dan luhur, namun perlu diketahui, bahwa mengarahkan batin ke arah yang luhur, lebih sulit dibandingkan dengan mengarahkan batin pada hal-hal rendah, karena manusia memang memiliki nafsu keinginan yang cenderung mengarahkannya ke arah yang rendah, buruk dan jahat, laksana gravitasi bumi yang senantiasa menarik objek yang berdiam di atasnya. . Selayaknya kita sebagai manusia, berusaha untuk melatih diri sekaligus berusaha meningkatkan kualitas diri, laksana pesawat terbang yang sedang lepas landas. Berikut sejumlah hal yang patut diingat agar kita tak dikecewakan oleh sebuah hubungan persahabatan:






1.      Janji manis sering berujung pada hal pahit

Semua orang pada dasarnya memang menginginkan hal yang baik pada masa depan mereka. Harapan ini pulalah yang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mengumbar janji manis untuk mengelabui dan mempermainkan emosi seseorang, sehingga dapat menuruti kemauannya saat ini. Hati-hati, jangan terkecoh oleh keluguan dan kepolosan seseorang, sehingga kita tertipu oleh iming-iming dan janji palsu yang ia berikan. Memang, terdapat pula orang-orang yang memang berjanji dengan sepenuh hati pada awalnya, tetapi ingat, apa yang ia janjikan, apakah cukup realistis dengan kemampuan dan kemauan yang ia miliki saat ini? Pada dasarnya, janji merupakan hal yang sulit ditepati. Ini berarti, semua orang  secara umum, berpotensi mengingkari sebuah perjanjian. Alasan inilah yang mendasari perlunya pembuatan akta notaris yang berkekuatan hukum untuk sebuah perjanjian, khususnya dalam dunia bisnis.


2.      Uang, tahta dan “cinta” berpotensi membutakan batin semua orang

Bohong jika seorang manusia mengaku tidak membutuhkan uang selama ia hidup di dunia. Hal ini pulalah yang menyebabkan batin seseorang buta karena uang. Jangan salah, orang salehpun berpotensi menjadi “buta” batinnya saat ia berhadapan dengan sejumlah uang dan lengah memperhatikan gerak-gerik batinnya sendiri. Uang memang sangat ampuh untuk menyulut api kekotoran batin (keserakahan) dalam diri seorang manusia, sebab memang banyak aspek dalam kehidupan ini yang sangat membutuhkan uang, tak heran, ada pepatah yang mengatakan “Bisnis dan uang tidak mengenal saudara dan sahabat.” Pepatah ini memang benar dan banyak fakta telah membuktikannya, karenanya, selalu buat dan gunakan perjanjian berlandaskan hukum untuk kegiatan pinjam-meminjam uang, kendaraan, dan harta lainnya yang bernilai cukup mahal. Termasuk pembagian keuntungan dalam sebuah bisnis. Buatlah perjanjian dihadapan notaris PPAT sedetail mungkin agar kita tak menyesal dikemudian hari saat partner kita tak bertindak sebagaimana mestinya.
Setali tiga uang dengan uang dan bisnis,  “cinta” lawan jenis juga merupakan penyulut api keserakahan dalam diri seseorang, yang dapat membawa akibat sama fatalnya jika sudah membutakan batin seorang manusia. Oleh karenanya, membina hubungan dengan pacar maupun berumah tangga juga membutuhkan pengelolaan yang tidak mudah dan harus dilakukan dengan sangat hati-hati, terlebih jika sudah melibatkan pihak ketiga atau yang secara umum dikenal dengan istilah cinta segi tiga.
Tak jauh berbeda, jabatan dan kekuasaan juga berpotensi menjadi racun bagi batin seorang manusia. Karenanya, sebuah sistem hierarki perlu disusun agar setiap level jabatan dapat diawasi secara terbuka dan dibangun berdasarkan hukum dan peraturan yang memungkinkan level terendahpun dapat melaporkan penyimpangan yang dilakukan oleh oknum di level atasnya. Kekuasaan tertinggi juga tidak boleh dimandatkan pada satu orang, agar tidak terjadi abuse of power. Tidak ada pula sahabat sejati dan sanak saudara pada persaingan memperebutkan kursi jabatan. Anggapan ini bukan mengajarkan kita untuk berprasangka buruk pada seseorang, tetapi menuntut kita untuk senantiasa sadar dan waspada terhadap siapapun.


3.      Yakinlah pada bukti dan fakta, bukan pada manusia semata

Tak kenal, maka tak sayang. Pepatah ini memang benar, tetapi tidak sepenuhnya benar, faktanya, banyak kasus kejahatan yang justru dilakukan oleh orang terdekat, bukan orang asing. Fakta ini membuka mata kita dan mengajak kita untuk lagi-lagi waspada dan menghindari sikap percaya yang membuta. Kepercayaan layak kita berikan pada seseorang di saat, kondisi, dan situasi saat ini berdasar fakta yang kita lihat, kepercayaan itupun sebaiknya tidak kita berikan selamanya pada seseorang, mengingat, sikap dan kondisi batin seseorang dapat berubah secara dinamis. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk mempercayai atau tidak mempercayai seseorang selamanya. Meditasi benar, membantu kita untuk menumbuhkan sikap sadar dan waspada yang dilandasi dengan kebijaksanaan dan pandangan benar.


4.      Orang lain adalah bukan diri kita dan merupakan pribadi yang unik

Setiap pribadi merupakan pribadi yang berbeda dan unik, oleh karenanya, mustahil bagi kita untuk menuntut orang lain memiliki pribadi yang sama seperti yang kita inginkan. Sisi baik dan sisi buruk dalam diri manusia pasti ada, dan ingat, orang lain bukanlah robot yang dapat kita kendalikan secara mutlak. Prinsip ini juga berlaku dalam hubungan antara orang tua dan anak. Kita hanya dapat mengarahkan seseorang untuk mencapai suatu target, mencegah dengan tidak mengkondisikan ia untuk melakukan kejahatan dan hal-hal yang buruk, serta mengoptimalkan potensi dan hal positif yang ia miliki dalam dirinya.

Wacana ini saya buat berdasar pengalaman hidup saya pribadi dan teori dhamma yang saya ketahui, ambilah hal-hal positifnya dan bila ada hal yang tak sesuai dengan dhamma, buang atau abaikan saja. Sayapun membuka kesempatan bagi rekan-rekan semua untuk berkomentar, menyampaikan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kemajuan kita bersama.

Senin, 15 Agustus 2011

Mengubah Pola Pikir, Mencapai Kebahagiaan Hidup Oleh: Bhikkhu Uttamo


Adalah merupakan satu hal yang sangat membahagiakan kita semua, bahwa perkembangan agama Buddha di Indonesia akhir – akhir ini sangatlah pesat. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya vihara yang dibangun lengkap dengan segala sarana pendukungnya, semakin aktifnya umat Buddha yang datang mengikuti kebaktian rutin maupun temporer dan tentu saja, jumlah para pemuda yang berkeinginan menjadi bhikkhu pun semakin bertambah.
Hanya saja, hendaknya kita jangan merasa terlalu berbahagia pada perkembangan yang bersifat fisik semacam itu. Ada hal yang hendaknya kita renungkan secara lebih mendalam yaitu sudahkah kemajuan fisik ini dibarengi dengan kemajuan yang bersifat batin juga? Karena sesungguhnya faktor terpenting dalam Buddha Dhamma adalah bagaimana seseorang dapat merasakan manfaat Dhamma dalam kehidupannya setelah ia melaksanakan Ajaran Sang Buddha tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Permasalahannya sekarang adalah Dhamma manakah yang dapat dengan mudah dipraktekkan untuk para pemula. Pertanyaan ini muncul karena telah sedemikian banyak buku Dhamma yang dicetak dan disebarluaskan, sudah sedemikian banyak kaset ceramah yang didengarkan, serta masih banyak sarana pembabaran Dhamma yang relatif dapat dengan mudah dijumpai dalam masyarakat, tetapi kesemuanya itu seakan berdiri sendiri – sendiri tidak membentuk urutan tahap kerangka berpikir yang bisa dijadikan pedoman pelaksanaan Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat kenyataan dalam masyarakat itulah, maka naskah ringkas ini disusun. Diharapkan, dengan membaca naskah ini seseorang akan memperoleh, paling tidak, suatu alternatif pedoman untuk melaksanakan Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Sesungguhnya, untuk mengawali pelaksanaan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari seseorang tidaklah membutuhkan teori dan pengetahuan Dhamma yang banyak serta berbelit-belit. Seseorang dapat memulainya dengan membaca Sigalovada Sutta. Disebutkan dalam sutta ini, Sang Buddha ketika berada di Rajagaha membabarkan tentang timbal balik tugas dan kewajiban berbagai unsur masyarakat kepada seorang pemuda bernama Sigala. Bentuk hubungan timbal balik tugas dan kewajiban ini dilambangkan dengan arah mata angin, yaitu:
  1. Anak terhadap orangtua seperti arah Timur,
  2. Murid terhadap para guru seperti arah Selatan,
  3. Suami terhadap isteri seperti arah Barat,
  4. Sahabat terhadap kawan-kawan seperti arah Utara,
  5. Pimpinan terhadap para karyawan-karyawan seperti arah bawah, dan
  6. Umat terhadap para guru agama serta brahmana seperti arah atas.
Namun, untuk menjaga agar naskah ini tetap ringkas, keterangan rinci sutta tersebut bisa dibaca di banyak sumber uraian Dhamma. Hanya saja, perlu ditunjukkan di sini bahwa dengan memperhatikan dan menyimak isi sutta tersebut sesungguhnya dapat ditarik kesimpulan umum yaitu setiap orang dalam masyarakat pasti memiliki tugas dan kewajibannya masing-masing pada saat berhubungan dengan fihak lain. Hanya saja, dalam pelaksanaannya, ada hal yang harus dipersiapkan yaitu pengendalian diri kita. Tanpa adanya pengendalian dan penguasaan diri sendiri, maka melaksanakan tugas dan kewajiban seperti yang dinasehatkan oleh Sang Buddha tersebut menjadi hal yang mustahil. Dalam perkembangannya, pengendalian diri ini tidaklah mudah dilakukan. Manusia cenderung memiliki keakuan yang tinggi. Kalau keakuan tidak dapat dikuasai, maka ia tidak akan merasa lebih rendah daripada orang lain. Dengan demikian, ia tidak merasa memiliki kewajiban yang harus dilakukan kepada orang lain. Ia hanya merasa memiliki hak bahwa orang lain hendaknya melakukan kewajiban atasnya.
Menimbulkan serta meningkatkan perasaan rendah hati yang merupakan hasil pengurangan dan pengendalian keakuan ini kadang bisa dilakukan pada beberapa fihak tertentu, namun sering tidak bisa dilaksanakan untuk semua fihak. Padahal, kalau memperhatikan isi sutta Sang Buddha di atas, kita bisa menyadari bahwa hak dan kewajiban itu berlaku untuk semua fihak.
Kalaupun seseorang dapat bersifat rendah hati kepada semua fihak, malah ada yang memberikan ‘gelar’ kepadanya sebagai ‘orang bodoh yang baik hati’. Kalau demikian, bagaimanakah sikap kita yang seharusnya?
Untuk menyikapi hal ini, kita dapat menjadikan air sebagai contoh yang nyata. Air akan selalu mampu menyesuaikan bentuk menurut tempat yang mewadahinya. Air akan berbentuk botol apabila dimasukkan ke dalam sebuah botol. Demikian pula bentuknya akan berubah apabila air dimasukkan ke dalam guci, tempayan, mangkok dan lain-lain.
Namun, meskipun air selalu menyesuaikan dengan bentuk tempatnya, air tidak pernah kehilangan kualitas pokoknya. Air bunga yang harum akan tetap harum walau berbentuk apapun juga sesuai dengan tempat yang mewadahinya.
Sesungguhnya seperti sifat air tersebut, seseorang dalam kehidupan sehari-hari hendaknya selalu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya tanpa mengubah jati dirinya pula. Cara seseorang untuk mencapai tahap ini adalah dengan selalu berusaha menerima serta memahami bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dengan mengubah pola pikir sendiri. Ia hendaknya tidak berusaha mengubah perilaku orang lain dalam waktu yang singkat. Mengubah prilaku seseorang akan membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak.
Kiat mengubah pola pikir sendiri ini juga meneladani sikap Sang Buddha ketika Beliau bermeditasi dengan disiplin tinggi selama enam tahun lamanya. Tujuan tunggal Beliau adalah untuk mengatasi ketidakkekalan dalam kehidupan ini yaitu adanya kesakitan, ketuaan dan kematian. Namun, akhirnya Beliau menyadari bahwa manusia tidak bisa mengubah hukum alam, manusia hanya bisa mengubah pola pikirnya sendiri sehingga mampu melihat hukum alam yaitu ketidakkekalan ini sebagaimana adanya. Dengan menerima kenyataan ini, manusia akan bisa mempersiapkan batinnya untuk menghadapi perubahan.
Perubahan pola pikir ini dapat dicapai dalam banyak cara dari yang sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Salah satu cara yang sederhana dan mudah dikerjakan adalah dengan selalu berusaha menanamkan dalam diri kita pemikiran: MEMANG dia demikian, bukannya KENAPA dia demikian?
Terdapat perbedaan yang sangat tajam antara kedua pola pikir tersebut. Dengan pola pikir ‘Kenapa dia demikian’, sesungguhnya fihak lain diharapkan dan bahkan dituntut untuk berubah dan ini tentu saja hal ini akan membutuhkan waktu serta tenaga yang besar, bahkan kadang tidak mungkin dapat diwujudkan. Dengan pola pikir ini, seseorang hanya dapat bergaul dengan orang yang bisa dikuasai dan dikendalikannya, namun, ia tidak akan pernah bisa bergaul dengan orang yang lebih tinggi tingkatannya atau orang yang sulit diatur. Dalam kehidupan sehari-hari, orang dengan pola pikir ini akan menjadi orang yang mudah mengeluh dan menuntut serta gampang putus asa.
Sedangkan dengan pola pikir ‘Memang dia demikian’ adalah sikap orang yang mau menerima kelebihan dan kekurangan orang lain. Orang dengan pola pikir inilah yang akan dengan mudah bergaul dengan orang lain. Ia akan mudah menyesuaikan diri. Ia tidak akan gampang mengeluh dan putus asa. Orang inilah yang akan sukses dalam hidupnya.
Oleh karena itu, marilah kita mulai dengan melaksanakan Dhamma secara sederhana ini. Karena dengan pelaksanaan ini akan menumbuhkan keberhasilan dalam pergaulan yang tentunya akan membuahkan kesuksesan dan kebahagiaan di segala bidang yang kita kerjakan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Semoga pengertian Dhamma yang singkat ini dapatlah menjadi titik tolak penghayatan Dhamma yang lebih tinggi lagi, sehingga akhirnya tercapailah kebahagiaan dalam kehidupan ini, kebahagiaan setelah kehidupan ini, dan tentu saja, kebahagiaan yang tertinggi, yaitu Nibbana.
Semoga semua mahluk berbahagia.

Senin, 09 Mei 2011

Antara Facebook dan Buddha Dhamma

11. (54) Harumnya bunga, tidak dapat melawan arah angin. Begitu pula harumnya kayu cendana, bunga tagara dan melati. Tetapi harumnya kebajikan, dapat melawan arah angin; harumnya nama orang bajik dapat menyebar ke segenap penjuru.
Dhammapada BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga Bunga
8. (8 ) Seseorang yang hidupnya hanya ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya tidak terkendali, yang makannya tidak mengenal batas, malas serta tidak bersemangat, maka Mara (Penggoda) akan menguasai dirinya. bagaikan angin yang menumbangkan pohon yang lapuk.
Dhammapada BAB I. YAMAKA VAGGA – Syair Berpasangan

Akun Facebook memiliki daya tarik daya tarik tersendiri akhir-akhir ini. Tak lain dan tak bukan adalah karena sederetan fitur & fasilitas yang ditawarkan oleh situs jejaring sosial ini. Dibanding situs lain yang serupa, Facebook menjanjikan manfaat tersendiri dan istimewa. Jika dibandingkan dengan para pendahulunya seperti situs jejaring sosial Frendster yang di tahun 2009 dapat meraih sekitar 80 juta member, konon Facebook yang sudah berdiri sejak Februari 2004 ini, memiliki kendali privasi yang lebih baik sehingga lebih diminati oleh masyarakat kaula muda, khususnya di Indonesia. Dan sekarang, Facebook telah memiliki lebih dari 500 juta member aktif di seluruh dunia.
Meski telah memiliki kendali privasi yang lebih baik (dan terus disempurnakan) dibanding situs jejaring sosial pendahulunya, Facebook masih saja harus berhadapan dengan berbagai masalah yang disebabkan oleh ulah segelintir oknum penggunanya, yang tentunya meresahkan para pengguna (khususnya teman pelaku di Facebook). Mulai dari penyalahgunaan (pembajakkan) akun, pemalsuan foto pribadi & identitas diri, kasus penipuan bermotif ekonomi, hingga kasus penculikkan yang memakan korban sejumlah gadis remaja.
Untuk itu, kita perlu mewaspadai hal-hal yang mengarah pada tindak kejahatan tersebut. Dan yang lebih penting, mewaspadai kondisi gerak-gerik batin kita sendiri agar tidak menjadi pelaku kejahatan ataupun tidak mempunyai prilaku yang merugikan teman dan sahabat kita di Facebook. Justru sebaliknya, kita seharusnya dapat membagikan hal-hal yang bermanfaat, semampu yang kita dapat berikan kepada teman, sahabat, bahkan banyak orang melalui Facebook.
Berikut adalah beberapa cara yang dapat menuntun kita agar aman beraktualisasi diri sekaligus menambah teman dan sahabat melalui Facebook.
  1. Usahakan untuk membagikan hal yang positif dan bermanfaat bagi banyak orang. Hal yang dibagikan itu dapat berupa motivasi, informasi, maupun konten-konten lain seperti video dan artikel.
  2. Berikanlah perhatian dan kepedulian kepada semua teman, perhatian dapat berupa ucapan selamat ulang tahun, komentar-komentar positif yang sifatnya membangun persahabatan sehingga orang lain dapat lebih merasakan dampak positif dari hubungan persahabatannya dengan Anda. Namun, tentu tidak boleh berlebihan, karena dapat menimbulkan masalah. Anda juga dapat menyatakan ekspresi terhadap apa yang dibagikan dan dibuat oleh teman Anda dengan mengklik "Suka" pada hal yang mereka bagikan.
  3. Berkomentar dan mengobrollah pada saat yang tepat dan pantas, mengobrol pada saat yang tidak pantas dan tepat dapat menyebabkan orang lain kesal dan jengkel.
  4. Perbincangkanlah hal-hal yang bermanfaat dan berguna saat Anda mengobrol, dengan demikian, Anda dan lawan bicara Anda dapat saling bertukar dan menambah  wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat.
  5. Berhati-hatilah saat Anda mengomentari status atau mengobrol dengan teman yang merupakan lawan jenis Anda, jangan sampai menyinggung perasaan teman Anda, atau menyebabkan pacar atau suami dari teman Anda merasa cemburu dan marah kepada Anda. Hindari komentar, update status dan obrolan serta konten yang bernuansa SARA.
  6. Hindari bergosip, baik pada saat Anda berkomentar, mengupdate status, maupun mengobrol.
  7. Jaga keselamatan akun Facebook Anda  dari bahaya penyalahgunaan akun. Ini dapat dicegah dengan melakukan beberapa  tindakkan diantaranya, gantilah kata sandi akun Facebook dan email yang ditautkan pada akun Facebook Anda secara berkala, jangan sampai kata sandi ini diketahui oleh orang lain. Pastikan pula, url pada browser Anda betul betul menunjukkan halaman login Facebook http://www.facebook.com/ untuk memastikan Anda login dari jaringan yang aman. Mengingat adanya halaman tiruan yang memang sengaja dibuat oleh pelaku cyber crime untuk mencuri data-data penting pribadi Anda. Installah  1 antivirus & antispyware pada komputer Anda untuk mencegah masuknya perangkat pengintai KEYLOGGER pada komputer Anda. Selalu gunakan mode penjelajahan pribadi pada browser, jika Anda menggunakan komputer warnet. Jangan pernah mengijinkan orang lain mengoperasikan akun Facebook Anda. Manfaatkan pula kendali privasi yang tersedia, agar Anda dapat menentukan siapa saja yang dapat melihat informasi pribadi, foto, video, catatan, status, dan komentar Anda.Disarankan pula, jangan menuliskan informasi mengenai diri Anda terlalu detail, karena rentan disalah gunakan. Waspadai juga penyalahgunaan foto di Facebook.
  8. Demi keselamatan akun Facebook Anda, tautkanlah setidaknya 2 alamat email akun Facebook, agar Anda tidak mengalami kesulitan saat Anda lupa kata sandi atas akun Facebook Anda.
  9. Waspadalah saat menggunakan aplikasi di Facebook, baik itu berupa kuis, game, atau bentuk lainnya. Jangan sampai data penting pribadi Anda seperti kata sandi, bocor dan disalah gunakan oleh pihak ketiga (penyelenggara aplikasi).
  10. Waspada dan segera laporkan/blokir, jika ada diantara teman Anda, melalui akun Facebooknya berkomentar, mengupdate status, maupun menegur Anda saat mengobrol dengan kata-kata atau permintaan yang aneh dan janggal, seperti meminta Anda mentransfer sejumlah uang ke rekening tertentu atau mengundang Anda untuk bertemu di suatu tempat. Anda harus benar-benar teliti dan jeli menanggapi undangan semacam ini. Bila perlu, jangan ditanggapi, kecuali bila Anda tahu dan kenal dengan jelas profil si pemberi undangan.
Facebook sebenarnya merupakan salah satu situs jejaring sosial yang boleh dikatakan sangat baik untuk mengembangkan jaringan sosial dan membina hubungan pertemanan serta persahabatan sekarang ini. Melalui Facebook, kita dapat menyalurkan pendapat, gagasan, ide, motivasi, buah pikir, dukungan positif terhadap orang lain, dan berbagi banyak hal bermanfaat lain kepada orang lain. Kitapun dapat membuat dan berbagi konten – konten bermutu berbentuk video, foto atau mungkin cerpen kepada banyak orang. Orang lainpun dapat menyampaikan wujud apresiasinya terhadap konten yang kita tayangkan di Facebook. Dengan demikian, proses aktualisasi diri kitapun dapat terbantu untuk berkembang.
Sebagai sebuah wadah interaksi sosial, Facebook tentu dapat menjadi sarana untuk pertukaran ide, pola pikir dan pandangan serta informasi. Dengan demikian, kita juga dapat memanfaatkan Facebook sebagai media untuk penyebaran Buddha Dhamma, tentunya bukan berarti menarik umat beragama lain untuk masuk menjadi umat Buddha, tetapi lebih  ke arah pembabaran ajaran Buddha Dhamma untuk kalangan umat Buddha sendiri, guna memperbaiki pemahaman dhamma yang mereka sudah pernah dengar sebelumnya atau bahkan belum pernah didengar sebelumnya, sehingga pemahaman dan keyakinan mereka terhadap Buddha Dhamma semakin baik dan mantap. Mengingat keberadaan vihara dan cetiya serta para bhikkhu dan pandita masih minim jumlahnya terutams di daerah-daerah terpencil di Indonesia yang masih relatif  sulit untuk dijangkau oleh para bhikkhu/bhikkhuni ataupun pandita.
Kitapun dapat memanfaatkan kelebihan Facebook dan situs jejaring sosial dan informasi lainnya yang unik jika dibandingkan jika kita memanfaatkan media komunikasi personal seperti ponsel misalnya. Salah satu  keunikan yang menjadi nilai lebih Facebook adalah waktu komunikasi yang jauh lebih fleksibel di banding ponsel; sifat komunikasi yang bersifat lebih terbuka, sehingga memungkinkan kita berinteraksi dengan siapa saja (bahkan kepada orang-orang di seluruh dunia) dengan tetap memperhatikan hak-hak privasi kita dan orang lain sehingga kita tetap dapat berinteraksi dengan nyaman dan aman kepada banyak orang; komunikasi juga jauh lebih efektif dan efisien di Facebook, mengingat dengan sifatnya terbuka, kita dapat berinteraksi dengan banyak pihak sekaligus.
Namun, layaknya sebuah wadah interaksi sosial, bukan tidak mungkin, jalinan dan ikatan cinta terhadap lawan jenis dapat terbentuk, sebagai akibat dari seringnya intensitas interaksi kita dengan satu atau beberapa orang tertentu. Bagi seorang umat awam yang masih melajang, mungkin hal ini tidak terlalu membawa masalah, sepanjang orang tersebut dapat mengendalikan diri dan memegang kokoh moralitas dalam bergaul. Tetapi, bagi seseorang yang telah berkeluarga, hal ini dapat menjadi masalah serius yang dapat dapat mengancam keberlangsungan rumah tangga. Karenanya, kedewasaan sikap dan kebijaksanaan dalam pergaulan di Facebook amat diperlukan. Biasakanlah dan didiklah diri kita masing-masing untuk bersikap jujur dengan tidak menutupi status atau bahkan berbohong mengenai status hubungan. Jika memang telah menikah, pilihlah menikah pada informasi profil (pada bagian “Orang Pilihan”), janganlah memilih lajang, bila memang kita telah berumah tangga, karena ini berarti kita telah melakukan suatu penipuan terhadap orang lain, dan berpotensi menimbulkan masalah serius di kemudian hari. Hindari pula memberikan informasi palsu pada data pribadi kita di Facebook, jika memang ada sebagian informasi pribadi yang tidak ingin kita bagikan ke publik, karena mungkin kurang layak atau dengan alasan keamanan, kita dapat mengaturnya dibagian kendali privasi yang terdapat pada tab Akun. Di bagian kendali privasi kita dapat mengendalikan siapa saja yang dapat mengakses informasi pribadi, foto, video, status dan informasi kontak kita. Jika memang ada informasi yang karena alasan privasi tidak dapat kita bagikan ke publik, kita dapat memilih opsi “Hanya Saya” yang boleh mengakses informasi ini. Dengan demikian orang lain tak akan dapat lagi melihat informasi tersebut, kecuali kita selaku pemilik akun Facebook. Yang jelas, Facebook memberikan kesempatan kita untuk berekspresi dan berkreasi mengembangkan serta mengeksplorasi bakat dan minat kita. Orang lainpun dapat mengungkapkan apresiasi dan respon terhadap apa yang kita perbuat, jadi, kita semakin tertantang bukan untuk memberikan hal positif yang kita dapat lakukan terhadap orang lain?
Semoga setelah kita mengetahui sekian banyak dampak positif dan dampak negatif dari situs jejaring sosial Facebook, kita dapat menggunakan akun Facebook kita dengan lebih bijak, sehingga bukan dampak negatif yang kita dapatkan, melainkan sebaliknya kita seharusnya dapat mengoptimalkan dampak positif dari Facebook, mengingat regulasi dan peraturan pemerintah tentang tata cara pergaulan di situs jejaring sosial dan informasi seperti Facebook & Twitter juga sudah jelas dengan dibuatnya UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Semoga ini semua membawa dampak positif bagi peradaban umat manusia. Yang harus diingat adalah Facebook (dan Twitter) hanyalah sebuah sarana untuk melakukan interaksi sosial yang netral, baik dan buruk dampaknya terhadap kehidupan manusia sangat ditentukan oleh kita sebagai penggunanya.

Salam Metta,
Jayanto Wahyu Leman SE
 Penulis.

Jumat, 11 Februari 2011

Pergaulan Sehat, Syarat Kesuksesan Hidup

Seandainya seseorang bertemu orang bijaksana yang mau menunjukkan dan memberitahukan kesalahan-kesalahannya, seperti orang menunjukkan harta karun, hendaklah ia bergaul dengan orang bijaksana itu. Sungguh baik dan tidak tercela bergaul dengan orang yang bijaksana.
Dhammapada – Pandita Vagga (Orang Bijaksana), 76
Belakangan ini, sarana pendukung pergaulan semakin banyak dan mudah didapat dan diakses oleh banyak orang. Berkembangnya dunia IT mengakibatkan kemudahan orang dalam menjalin persahabatan secara masif dengan banyak orang. Satu hal yang patut kita ingat bersama adalah, pertemanan dan persahabatan itu bagaikan pisau bermata dua. Persahabatan dapat membangun dan mengantarkan diri kita untuk sukses dan bahagia, tetapi juga dapat menjerumuskan kita pada jurang kesengsaraan yang tak ada hentinya. Karena itulah, kita perlu berhati-hati saat memilih teman dan sahabat.
Dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan internet, arus informasi, komunikasi dan pergaulan juga semakin maju. Namun satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah, kemajuan dalam bidang teknologi ini tidak meningkatkan kualitas moral dan batin manusia. Bahkan, kualitas batin dan moral manusia cenderung menurun sebagai dampak negatif dari keterbukaan arus informasi yang cenderung tak terkendali. Karena itu, sahabat yang baik relatif sulit untuk dijumpai. Selain itu, saat ini kita harus sangat hati-hati dalam memilih teman, jangan sampai kita diperalat oleh orang-orang yang memiliki tujuan dan maksud jahat. Belakangan ini juga ditemui berbagai kelainan jiwa manusia yang menghasilkan prilaku menyimpang dan mengerikan, seperti psikopat, pedofilia dan lain sebagainya. Karena itu, janganlah menilai orang dari apa yang selama ini dilakukannya saja. Itu belum cukup. Kita juga harus menilai pribadinya juga, dan ini membutuhkan waktu yang lama dan kecermatan yang lebih dalam menilai pribadi sesorang.
Banyak kisah sukses yang dicapai seseorang setelah ia mengenal seorang sahabat. Namun tentu tidak semua orang dapat menjadi seorang sahabat yang dapat mengantarkan orang lain pada suatu kesuksesan. Seorang sahabat dapat memberikan saran, kritik, komentar, ide, dana, maupun motivasi terhadap apa yang kita lakukan. Kita juga membutuhkan orang lain untuk mendukung proses aktualisasi diri kita, mengingat yang dapat menilai secara obyektif apa yang kita kerjakan dan capai adalah orang lain yang netral dan tak memihak. Tentunya kitapun harus menerima kritik dan saran yang positif dan membangun dengan dada yang lapang dan penuh kerendahan hati, untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang kita miliki. Jika tidak, semua itu tidak akan berarti dan hanya menjadi sebuah retorika saja. Salah satu bukti keberhasilan yang dicapai karena adanya dukungan orang lain adalah Larry dan Sergey, mereka adalah pendiri Google. Dua orang ini berhasil mendirikan Google karena mendapat bantuan dana dari rekan kampus mereka Andy Bechtolsheim dan juga sejumlah investor lainnya. Akhirnya, Google pun dapat berdiri pada 7 September 1998 di Menlo-Park, California. Dari kisah ini, kita melihat betapa dukungan orang lain berperan sangat penting terhadap kemajuan hidup seseorang. Seseorang yang membantu kita bisa datang dari berbagai posisi dan peran, termasuk sanak keluarga, guru, pacar, teman sepermainan dan lain sebagainya.
Tentunya orang lain tak datang sekonyong-konyong begitu saja, untuk membantu dan memberikan dukungannya pada kita. Disamping harus saling percaya dan mengenal kepribadian masing-masing, hal ini juga tidak terlepas dari pengaruh kekuatan buah kamma baik yang kita tanam, baik pada masa kelahiran sekarang maupun kelahiran lampau. Sebab itulah kita seharusnya senantiasa berbuat baik, bersikap terbuka, dan juga memiliki kepribadian dan prilaku yang baik dan menyenangkan. Kitapun selayaknya teman dan sahabat bagi orang lain, seharusnya membina hubungan baik dan saling menguntungkan, saling berbagi dan melengkapi kekurangan masing-masing, agar teman, sahabat, relasi dan semua orang yang berada di sekitar kita tidak merasa dirugikan. Satu hal yang penting untuk diingat dan dicamkan baik-baik dalam batin kita masing-masing adalah janganlah pernah menipu dan mengingkari janji yang kita buat, apalagi mencari kambing hitam dan memfitnah orang lain, karena semua perbuatan itu akan merusak kepercayaan orang lain pada diri kita, tidak hanya saat ini, tetapi juga hingga kelahiran kita mendatang, sebagai akibat dari energi negatif dari perbuatan-perbuatan tersebut.
Seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa kemajuan internet, telah banyak membantu kehidupan kita, terutama setelah situs-situs jejaring sosial dan informasi besar bermunculan. Manfaatkanlah itu untuk memperluas pergaulan dan wawasan kita. Dengan dukungan internet kita dapat menjalin hubungan pertemanan dan mungkin persahabatan dengan siapa saja, termasuk mereka yang berada di luar negeri dan dari belahan dunia manapun. Namun perlu disadari bahwa yang menyalahgunakan situs-situs jejaring sosial dan informasi inipun cukup banyak. Apalagi pemalsuan identitas diri amat mudah dilakukan di internet. Jadi, lebih berhati-hatilah dalam bergaul di dunia maya, terutama Anda kaum perempuan, jangan sampai terjerumus pada jaringan prostitusi online. Jagalah juga keamanan akun-akun pribadi kita di internet, terutama akun-akun pribadi di situs jejaring sosial, dan keamanan data kartu kredit serta akun Paypal karena amat rentan disalahgunakan oleh orang lain.
Itulah sedikit pengetahuan dan wawasan yang saya dapat bagikan kepada para pembaca. Semoga setelah membaca artikel yang saya tulis ini, kita semua dapat lebih sukses dalam pergaulan, senantiasa sadar dan lebih mawas diri, sehingga kita dapat mencapai kemajuan yang berarti dalam kehidupan sesuai dengan Buddha Dhamma.
Salam Metta,
Jayanto Wahyu Leman SE.
Penulis


Link download artikel :


http://www.ziddu.com/download/13766330/PergaulanSehatSyaratKesuksesanHidup.pdf.html

Selasa, 12 Oktober 2010

CULASIHANADA SUTTA (11)

Sumber Kutipan : Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya I
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : Proyek Sarana Keagamaan Buddha Departemen Agama RI, 1993



Demikian yang saya dengar.
    Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di Jetavana, Anathapindika Arama, Savatthi. Kemudian Sang Bhagava berkata : "Para bhikkhu."
    "Ya, Bhante," jawab mereka. Selanjutnya Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, hanya di sini ada samana, hanya di sini ada samana kedua, hanya di sini ada samana ketiga dan hanya di sini ada samana keempat. Dalam ajaran yang lain tidak ada samana; beginilah hal itu harus diraungkan (sihanada).
    (Dalam hal ini, kata samana = sotapanna, samana kedua = sakadagami, samana ketiga = anagami, samana keempat = arahat)
    Mungkin para pertapa dari sekte lain bertanya: 'Apakah sebabnya maka anda mengatakan demikian?' Pertanyaan itu harus dijawab: 'Saudara, empat dhamma telah dinyatakan oleh Sang Bhagava, yaitu:
1.    Kami yakin pada guru (Sang Buddha).
2.    Kami yakin kepada Dhamma.
3.    Kami memiliki sila yang sempurna.
4.    Kami mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma (sahadhammika) apakah mereka umat awam atau pabbaja.
Berdasarkan hal-hal itu kami menyatakan begitu.'
    Namun, para pertapa dari sekte yang lain dapat berkata: 'Kami juga yakin kepada guru, yaitu guru kami; kepada dhamma yaitu dhamma kami; sila kami sempurna, sesuai dengan sila kami dan kami mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbaja. Apakah perbedaannya?'
    Hal itu harus dijawab dengan bertanya: 'Apakah tujuannya hanya satu atau banyak?' Mereka akan menjawab dengan benar: 'Tujuan hanya satu.'
    'Apakah tujuan itu bebas nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan dan kemelekatan?'
    'Ya, tujuan itu bebas dari nafsu ... kemelekatan.'
    'Apakah tujuan itu disertai penglihatan, tanpa pro dan kontra, maupun perbedaan?'
    'Ya, tujuan itu disertai penglihatan, tanpa pro dan kontra, maupun perbedaan,' jawab mereka dengan benar.
    Ada dua ditthi (pandangan) yaitu bhava ditthi (pandangan tentang ada makhluk) dan vibhava ditthi (pandangan tanpa ada mahluk).
  1. Para samana atau brahmana yang berpaham bhava ditthi menentang paham vibhava ditthi.
  2. Para samana atau brahmana yang berpaham vibhava ditthi menentang paham bhava ditthi.
    Para samana dan brahmana yang tidak mengerti sebagaimana apa adanya tentang asal mula, lenyapnya, kesenangan, bahaya dan jalan keluar dari dua ditthi (pandangan) itu adalah diliputi oleh nafsu, kebencian, kebodohan, keinginan, kemelekatan, tanpa penglihatan, terlibat dalam pro dan kontra, menyenangi dan menikmati perbedaan. Mereka tidak dapat bebas dari kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap-tangis, kesakitan, duka-cita dan putus asa. Mereka tidak dapat terbebas dari dukkha (penderitaan).
    Para samana dan brahmana yang mengerti sebagaimana apa adanya tentang asal mula ... tidak diliputi oleh nafsu ... berpenglihatan, tidak terlibat dalam pro dan kontra, tidak menyenangi dan tidak menikmati perbedaan. Mereka dapat bebas dari kelahiran ... dan putus asa. Mereka dapat terbebas dari dukkha.
    Ada empat macam kemelekatan (upadana):
  1. Kemelekatan pada nafsu indera (kama-upadana).
  2. Kemelekatan pada pandangan salah (ditthi-upadana).
  3. Kemelekatan pada upacara dan ritual (silabbata-upadana).
  4. Kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal (Artavada-upadana).
    Ada samana dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi tidak rinci menerangkan 'pengetahuan jelas tentang semua kemelekatan' itu. Mereka menerangkan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu indera, tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan salah, kemelekatan pada upacara dan ritual, maupun kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal. Karena mereka itu tidak mengerti dengan jelas sebagaimana apa adanya tentang tiga kemelekatan itu. Akibatnya mereka itu menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi mereka hanya menerangkan tentang pengetahuan jelas yang berkenaan dengan nafsu indera, tanpa menerangkan tiga kemelekatan yang lain.
    Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, ... Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu indera dan kemelekatan pada pandangan salah, tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada upacara dan ritual serta kemelekatan apa pandangan adanya jiwa yang kekal. Karena mereka tidak mengerti ....
    Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, ... Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu indera, kemelekatan pada pandangan salah dan kemelekatan pada upacara serta ritual, tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal. Karena mereka tidak mengerti ....
    Dalam 'dhammavinaya' seperti itu adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan dhamma, namun tidak terarah dengan benar; pelaksanaan sila sempurna tidak terarah dengan benar; mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbaja juga tidak terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena dhammavinaya itu salah diuraikan, salah dinyatakan, tanpa tujuan, tidak mengarah ke kedamaian dan dibabarkan oleh bukan Samma Sambuddha. Ketika Tathagata, Arahat Samma Sambuddha membabarkan pengetahuan jelas tentang semua macam kemelekatan, ia dengan sempurna menguraikan semua macam kemelekatan, yaitu: kemelekatan pada nafsu indera, pada pandangan salah, pada upacara dan ritual serta adanya jiwa yang kekal.
    Dalam 'dhammavinaya' seperti itu adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan dhamma yang terarah dengan benar, pelaksanaan sila sempurna yang terarah dengan benar, mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbaja yang terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena 'dhammavinaya' itu benar diuraikan, benar dinyatakan, bertujuan, mengarah ke kedamaian dan dibabarkan oleh Samma Sambuddha.
    Apakah sumber, asal mula, tempat kelahiran dan yang memproduksi empat kemelekatan?
    Empat kemelekatan ini bersumber pada keinginan (tanha), berasal mula dari keinginan, lahir dari keinginan dan diproduksi oleh keinginan.
    Apakah sumber keinginan?
    Keinginan bersumber dari perasaan (vedana) ... diproduksi oleh perasaan.
    Apakah sumber perasaan?
    Perasaan bersumber mula dari kontak (phassa) ... diproduksi oleh kontak.
    Apakah sumber kontak?
    Kontak bersumber dari enam indera (salayatana) ... diproduksi oleh enam indera.
    Apakah sumber enam indera?
    Enam indera bersumber dari batin dan jasmani (nama-rupa), berasal mula dari batin dan jasmani, dilahirkan oleh batin dan jasmani, serta diproduksi oleh batin dan jasmani.
    Apakah sumber batin dan jasmani?
    Batin dan jasmani bersumber dari kesadaran (vinnana) ... diproduksi oleh kesadaran.
    Apakah sumber kesadaran?
    Kesadaran bersumber dari bentuk-bentuk kamma (sankhara) ... diproduksi oleh fenomena.
    Apakah sumber bentuk-bentuk kamma?
    Bentuk-bentuk kamma bersumber dari kebodohan (avijja), ... diproduksi oleh kebodohan.
    Segera setelah kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja) muncul, maka ia tidak lagi melekat pada nafsu indera, pandangan salah, pada upacara dan ritual serta pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Ketika tidak ada kemelekatan, maka ia tidak menderita. Ketika ia tidak menderita maka ia mencapai nibbana: kelahiran telah lenyap, kehidupan suci telah dicapai, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada sesuatu melebihi ini.

Kamis, 30 September 2010

Pentingnya Memiliki Mata Pencaharian Benar

Pekerjaan bebas dari pertentangan
Itulah Berkah Utama
Manggala Sutta


Saudara/i se-Dhamma, kita hidup sebagai manusia sesungguhnya tak dapat hidup layak
tanpa memiliki apa yang disebut sebagai mata pencaharian benar. Semenjak kita dilahirkan,
keluarga kita sudah seharusnya memiliki mata pencaharian atau penghidupan. Beberapa problem
muncul akibat pentingnya mata pencarian atau penghidupan ini, diantarannya adalah; mata
pencarian tidak melanggar dhamma tetapi tak mampu memenuhi kebutuhan,dan mata pencarian
dapat memenuhi kebutuhan hidup tetapi bertentangan dengan dhamma.
Untuk kasus pertama, dimana mata pencaharian selaras dengan Dhamma, tetapi tidak dapat
memenuhi kebutuhan hidup memang terkadang terjadi. Untuk kasus ini, tidak lain sulusinya adalah
menambah keterampilan & pengetahuan kita guna meraih mata pencarian yang dapat menyokog
hidup kita dan tetap berselaras dengan dhamma ajaran Sang Buddha. Jangan lupakan juga untuk
menjaga sila (moral) dan melakukan kebajikan, terutama dana. Dana sendiri dapat berupa materi
dan nonmateri. Satu prinsip yang seharusnya dipegang adalah jika kita sudah berusaha keras dan
maksimal, maka tak ada lagi hal yang patut kita sesali. Yang perlu kita lakukan, menambah
kebajikan dan lihatlah peluang dengan cermat dan segera teliti apakah jika kita memanfaatkan
peluang tersebut kita melanggar dhamma atau tidak. Jika melanggar, tolak. Jika tidak, manfaatkan
segera. Jangan terlalu lama menunda, karena biasanya peluang itu akan lewat begitu saja. Jika suatu
usaha menunjukkan prospek yang baik dan sesuai dhamma, tekuni saja semampu kita, jangan
terlalu mudah menyerah, karena bukan tak mungkin usaha tersebut mengantarkan kita pada masa
depan yang cerah.
Untuk kasus, dimana mata pencaharian tidak selaras dengan dhamma tapi dapat memenuhi
kebutuhan hidup, ini memang lebih repot, apalagi si empunya jika sudah berkeluarga. Maka akan
timbul pemikiran “Mengapa saya harus mengganti haluan jika dengan mata pencarian (bisnis) ini
saya mampu menghidupi diri dan keluarga saya. Mata pencarian lain belum tentu dapat memenuhi
kebutuhan saya dan keluarga.”
Perlu diketahui, bahwa agama Buddha mengolongkan 5 jenis mata pencaharian ini sebagai mata
pencaharian tidak benar (menurut Dhamma):
1. Memperdagangkan senjata.
2. Memperdagangkan manusia (budak, anak, pelacur, dan organ tubuh manusia).
3. Memperdagangkan mahkluk hidup.
4. Memperdagangkan minuman keras, narkotika dan obat-obatan berbahaya yang dapat
melemahkan kesadaran dan kewaspadaan.
5. Memperdagangkan racun.
Disamping itu ada beberapa jenis mata pencaharian yang sepatutnya kita hindari karena
tidak sesuai dengan dhamma yaitu; menjualproduk bajakkan/membajak dan menjiplak hasil karya
orang lain (dalam bentuk buku, lagu, film, software dan lain sebagainya termasuk melakukan
pemalsuan), berprofesi sebagai rentenir (pemberi pinjaman uang dengan imbalan bunga tinggi),
dan menjual film, buku, gambar, situs serta content porno.
Sekarang, marilah kita tinjau, mengapa kita sebagai umat Buddha sebaiknya menghindari 5
jenis mata pencaharian tidak benar yang telah disebutkan di atas. Memperdagangkan senjata, kita

tahu, senjata adalah alat untuk melukai orang lain, inilah alasan utama mengapa senjata
sesungguhnya tidak boleh diperdagangkan. Memang ada sebagian orang yang beropini, senjata
adalah alat pertahanan diri, tetapi ini tak dapat dibenarkan, karena faktanya, semakin mudah senjata
diperoleh, semakin banyak tindak kejahatan. Lihat saja pada kasus kepemilikan senjata api, yang
memicu tindak kriminalitas, bahkan kekerasan dalam rumah tangga yang berujung maut.
Memperdagangkan manusia, selain melanggar hukum, kegiatan ini juga bertentangan
dengan dhamma. Karena manusia sesungguhnya mempunyai hak asasi yang sama.
Memperdagangkan manusia berarti memposisikan manusia yang satu lebih rendah dari manusia
yang lain dan mengesploitasi manusia. Perdagangan manusia mengkondisikan manusia yang satu
“Membeli” manusia lain dan memperlakukannya semena-mena. Ini tentu tidak sesuai dengan
dhamma dan mengakibatkan pelakunya menerima buah kamma buruk yang amat berat. Termasuk
memperdagangkan organ tubuh manusia, hal ini melanggar hukum dan sungguh tidak sesuai
dengan Dhamma.
Memperdagangkan mahkluk hidup, sama seperti perdangangan manusia, sesungguhnya
semua mahkluk juga memiliki hak hidup yang sama. Perdagangan mengkondisikan manusia untuk
mengeksploitasi makhluk hidup dan itu bertentangan dengan Dhamma. Apalagi jika makhluk itu
dibunuh untuk dijual daging atau organ tubuh lainnya, kamma buruk pelakunya sungguh berat.
Untuk kita yang gemar melepas makhluk hidup, jangan memesan makhluk yang akan kita lepas
kepada penjual hewan hidup, karena hal ini akan mengkondisikan si penjual hewan hidup
menangkap hewan sebanyak yang kita pesan, bahkan lebih banyak. Hal ini tentu berdampak buruk
dan dapat mennyesarakan makhluk hidup. Kita malah terlibat dalam perdagangan makhluk hidup.
Memperdagangkan minuman keras, narkotika dan obat-obatan berbahaya, sama saja
dengan meracuni dan mendidik masyarakat ke jalan salah. Tidak hanya sampai disitu, dampak dari
minuman keras dan obat-obatan terlarang sungguh amat berbahaya, dan memiliki daya rusak yang
besar. Seseorang yang terpengaruh efek minuman keras dan narkotika dapat melanggar pancasila
Buddhis, sehingga dapat merusak masa depan orang yang bersangkutan sekaligus membahayakan
orang-orang di sekitarnya karena orang yang terpengaruh minuman keras dan narkoba dapat berbuat
kejahatan kapan, dimana, dan kepada siapapun. Sekedar informasi, hampir sebagian besar pecandu
narkoba menemui maut karena “Over dosis” dan sulit bagi mereka untuk keluar dari jeratan
narkoba.
Memperdagangkan racun seperti racun tikus dan serangga, pembasmi hama dan rayap,
juga sebaiknya dihindari karena keberadaan racun itu membahayakan dan dapat merampas hak
hidup makhluk lain. Jadi tetap bertentangan dengan Dhamma.
Menjual/membuat produk bajakkan, memalsu produk karya orang lain, adalah melanggar
hukum dan bukanlah mata pencaharian yang benar menurut Dhamma, karena dapat digolongkan
dalam pelanggaran sila kedua yaiitu pencurian ide/gagasan dan karya cipta orang lain tanpa seijin
pemiliknya.
Bermata pencaharian sebagai rentenir dengan menjual (yang berkedok meminjamkan) dana
dengan bunga tinggi dan tak wajar, sehingga menyengsarakan si pembeli (peminjam) dana yang
karena kesulitan ekonomi terpaksa menerima tawaran sang rentenir. Mata pencaharian ini sungguh
menumbuh-kembangkan keserakahan dan kebencian karena menjanjikan keuntungan yang tidak
wajar dan pasti menindas kaum ekomomi lemah yang tak berdaya. Sangat bertentangan dengan
Dhamma yang mengajarkan kita mengikis keserakahan, kebencian dan kebodohan batin.
Menjual segala produk yang bernuansa pornografi dan porno-aksi berarti sama saja mendidik
masyarakat untuk berbuat asusila dan amoral, tanpa disadari, pornografi juga akan menimbulkan
kecanduan. Sungguh buruk dampaknya terutama bagi remaja dan anak dibawah umur.
Jika sesorang mempunyai mata pencaharian sesuai Dhamma, meski ia belum sejahtera
hidupnya, asalkan ia memiliki sila dan perilaku yang baik, tidak tertutup kemungkinan ia dapat
memiliki kehidupan yang makmur di kemudian hari. Karena kekayaan dunia dapat diperoleh dari

berbagai cara. Misalnya dengan menawarkan produk yang dapat bermanfaat bagi banyak orang,
seperti Bill Gates pendiri Microsoft, dan Linus Torvalds penemu Linux Ubuntu. Atau menjadi
konsultan bisnis, atau bekerja pada suatu perusahaan dan masih banyak cara lain yang sesuai
dhamma yang kita bisa lakukan untuk memperoleh penghasilan yang layak. Tetapi memang itu
semua tidak mudah, apalagi persaingan sudah sangat ketat saat ini. Itulah konsekuensi dari
kehidupan kita sebagai manusia.
Sang Buddha sendiri menegaskan, bahwa pelaksanaan sila yang baik dapat membawa
dampak baik yang amat besar bagi kehidupan kita. Dengan melaksanakan sila dapat berakibat
terlahir di alam surga, dengan melaksanakan sila akan berakibat memiliki kekayaan duniawi dan
dengan pelaksanaan sila juga akan mengakibatkan seseorang dapat mencapai nibbana. Karena itu,
rawatlah sila Anda dengan baik. Pada Jalan Mulia Berunsur Delapan Sang Buddha menyebutkan
mata pencaharian benar sebagai unsur kelima, ini berarti mata pencaharian benar juga merupakan
salah satu faktor pendukug untuk mencapai nibbana, sebab itu, kita sebagai umat Buddha sudah
selayaknya memiliki mata pencaharian benar. Semoga pengetahuan dhamma yang saya tulis kali ini
bermafaat bagi kawan-kawan se-Dhamma
Mettacitena,
Jayanto Wahyu Leman
Penulis

Download PDFnya di

http://www.ziddu.com/download/11893590/PentingnyaMataPencaharianBenar.pdf.html